7 Juli 2012

0 LAPORAN PRAKTIKUM STRUKTUR KECAMBAH


LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BENIH
ACARA IV
STRUKTUR KECAMBAH

BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Tujuan
Ø  Mahasiswa mengetahui struktur  kecambah berbagai tanaman-tanaman pangan yang tergolong dalam benih monokotil dan dikotil. Memperkenalakan struktur biji monokotil dan dikotil.
Ø  Mahasiswa mengetahui keragaman perkecambahan berbagai macam benih. Memperkenalkan bagian-bagian kecambah biji monokotil dan dikotil.

1.2  Landasan Teori
Secara alamiah benih matang yang disebarkan oleh tumbuhan induknya bisa segera berkecambah atau tetap dorman ,berujud benih yang menangguhkan perkecambahannya hingga waktu yang tepat. Jadi,  dormansi benih merupakan sifat adabtasi benih yang penting.Dengan dorman di dalam  tanah , benih dapat mempertahankan kelangsungan hidup spesiesnya dari kemungkinan mati jika berkecambah pada waktu yang tidak tepat . Situasi demikian terutama terjadi di daerah beriklim subtropics. 
Perkecambahan diawali dengan penyerapan air dari lingkungan sekitar biji, baik tanah, udara, maupun media lainnya. Perubahan yang teramati adalah membesarnya ukuran biji yang disebut tahap imbibisi (berarti "minum"). Biji menyerap air dari lingkungan sekelilingnya, baik dari tanah maupun udara (dalam bentuk embun atau uap air. Efek yang terjadi adalah membesarnya ukuran biji karena [[sel {biologi)|sel]]-sel embrio membesar) dan biji melunak. Proses ini murni fisik.
Kehadiran air di dalam sel mengaktifkan sejumlah enzim perkecambahan awal. Fitohormon asam absisat menurun kadarnya, sementara giberelin meningkat. Berdasarkan kajian ekspresi gen pada tumbuhan model Arabidopsis thaliana diketahui bahwa pada perkecambahan lokus-lokus yang mengatur pemasakan embrio, seperti ABSCISIC ACID INSENSITIVE 3 (ABI3), FUSCA 3 (FUS3), dan LEAFY COTYLEDON 1 (LEC1) menurun perannya (downregulated) dan sebaliknya lokus-lokus yang mendorong perkecambahan meningkat perannya (upregulated), seperti GIBBERELIC ACID 1 (GA1), GA2, GA3, GAI, ERA1, PKL, SPY, dan SLY.
 Diketahui pula bahwa dalam proses perkecambahan yang normal sekelompok faktor transkripsi yang mengatur auksin (disebut Auxin Response Factors, ARFs) diredam oleh miRNA.[1]
Perubahan pengendalian ini merangsang pembelahan sel di bagian yang aktif melakukan mitosis, seperti di bagian ujung radikula. Akibatnya ukuran radikula makin besar dan kulit atau cangkang biji terdesak dari dalam, yang pada akhirnya pecah. Pada tahap ini diperlukan prasyarat bahwa cangkang biji cukup lunak bagi embrio untuk dipecah.
Perkecambahan biji bergantung pada imbibisi. Imbibisi merupakan penyerapan air oleh biji. Air yang berimbibisi menyebabkan biji mengembang, memecahkan kulit biji, dan memicu perubahan metabolic pada embrio yang menyebabkan biji tersebut melanjutkan
pertumbuhannya. Zat-zat makanan dipindahkan dari endosperma atau kotiledon ke bagian embrio yang sedang tumbuh.
Organ pertama yang muncul dari biji yang berkecambah
dinamakan radikula (bakal akar). Pada tanaman buncis, hipokotil akan tumbuh dan mendorong epikotil dan kotiledon ke atas permukaan tanah. Selanjutnya plumula yang terletak di ujung epikotil, akan berkembang menjadi daun pertama.
Daun ini terus tumbuh dan berkembang menjadi hijau dan mulai berfotosintesis. Kotiledon akan layu dan rontok dari biji karena cadangan makanannya telah dihabiskan oleh embrio yang berkecambah. Perkecambahan biji yang disebabkan oleh pertumbuhan hipokotil yang mendorong kotiledon dan epikotil ke atas permukaan tanah ini disebut tipe perkecambahan epigeal. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan Perkembangan Tumbuhan.


BAB II
METODELOGI

2.1 Bahan dan Alat
Ø Benih monokotil (padi, jagung) dan benih dikotil (kedelai, kacang tanah, kacang hijau)
Ø Sutrat pasir
Ø Air
Ø Pinset
Ø Buku gambar
Ø Pensil Hitam
Ø Pensil Berwarna
Ø Bak pengecambah
Ø Gembor


2.2 Cara Kerja
Ø Siapkan bak perkecambahan dengan subtrat pasir lembab
Ø Tanam setiap jenis benih sebanyak 25 butir didalam bak pengecambahan dengan kedalaman tanam 2-3cm.
Ø Amati dan gambar struktur kecambah pada minggu berikutnya (7 hari setelah tanam)
Ø Berikan keterangan gambar struktur kecambah.
Ø Amati tipe perkecambahan benih-benih tersebut.




BAB 111
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil Pengamatan

1.     Gambar kecambah jagung

2.     Gambar kecambah kacang hijau

3.     Gambar kecambah kedelai

4.     Gambar Kecambah kacang tanah

3.2 Pembahasan

perkecambahan benih merupakan rangkaian komplek dari perubahan-perubahan morfologi, fisiologi dan biokimia. Protein, pati dan lipid setelah dirombak oleh enzim-enzim digunakan sebagai bahan penyusun pertumbuhan didaerah-daerah titik-titik tumbuh dan sebagai bahan bakar respirasi
Secara fisiologis, perkecambahan benih adalah dimulainya lagi proses metabolisme yang tertunda serta berlangsungnya transkripsi genom. Secara biokimia, perkecambahan merupakan diferensiasi lanjutan dari lintasan oksidatif dan lintasan sintetik serta perbaikan lintasan biokimia khusus dari pertumbuhan dan perkembangan vegetatif.Proses perkecambahan benih dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Faktor genetik yang berpengaruh adalah susunan kimiawi benih yang berhubungan dengan daya hidup benih. Sifat ketahanan ini meliputi masalah kadar air benih, kegiatan enzim dalam benih dan kegiatan-kegiatan fisik atau biokimiawi dari kulit benih, sedangkan faktor lingkungan yang sangat berpengaruh adalah air, gas, suhu dan oksigen.
         Kulit benih dan struktur disekitarnya dapat mempengaruhi kemampuan perkecambahan benih melalui penghambatan terhadap penyerapan air, pertukaran gas, difusi inhibitor endogenous atau penghambatan pertumbuhan embrio. Sementara jika penghambatan perkecambahan terjadi pada benih yang tidak mempunyai kulit keras atau tidak memerlukan skarifikasi untuk penyerapan air, maka kemungkinan penyebabnya adalah penghambat bagian lain dari benih misalnya endosperma. Selanjutnya dinyatakan pula bahwa tingkat hambatan endosperma dalam benih cabai dipengaruhi oleh lama imbibisi, suhu perkecambahan, ketersediaan oksigen dan perlakuan pada benih.
Perlakuan benih secara fisiologis untuk memperbaiki perkecambahan benih melalui imbibisi air secara terkontrol telah menjadi dasar dalam invigorasi  benih. Saat ini perlakuan invigorasi merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk mengatasi mutu benih yang rendah yaitu dengan cara memperlakukan benih sebelum tanam untuk mengaktifkan kegiatan metabolisme benih sehingga benih siap memasuki fase perkecambahan. Selama proses invigorasi, terjadi peningkatan kecepatan dan keserempakan perkecambahan serta mengurangi tekanan lingkungan yang kurang menguntungkan. Invigorasi dimulai saat benih berhidrasi pada medium imbibisi yang berpotensial air rendah. Biasanya dilakukan pada suhu 15-20oC. Setelah keseimbangan air tercapai selanjutnya kandungan air dalam benih dipertahankan.


BAB IV
KESIMPULAN

Ø Secara fisiologis, perkecambahan benih adalah dimulainya lagi proses metabolisme yang tertunda serta berlangsungnya transkripsi genom.
Ø Proses perkecambahan benih dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Faktor genetik yang berpengaruh adalah susunan kimiawi benih yang berhubungan dengan daya hidup benih.
Ø Sifat ketahanan ini meliputi masalah kadar air benih, kegiatan enzim dalam benih dan kegiatan-kegiatan fisik atau biokimiawi dari kulit benih, sedangkan faktor lingkungan yang sangat berpengaruh adalah air, gas, suhu dan oksigen.

DAFTAR PUSTAKA


Anonim. 2009. Penuntun Praktikum Teknologi Benih. FAPERTA UNIB.     Bengkulu.

Byrb, Harold W. 1968. Seed Technology handbook. State College. Mississipi.

Hamidin, Emid. 1978. Pedoman Teknologi Benih. PT. Pembimbing Masa. Bandung.

Mugnisyah, Wahyu Qumara.1999.Teknologi Benih.Universitas Terbuka.Jakarata.

Sutopo, Lita. 1988. Teknologi Benih. CV. Rajawali. Jakarta

Wirawan, Baran. 2002. Memproduksi Benih Bersertifikat. Penebar Swadaya. Jakarta.

0 komentar:

Poskan Komentar

Apabila kamu menemukan Broken link/ link rusak atau ingin bertanya dan lain sebagainya silahkan meninggalkan komentar/pesan dibawah ini !

 

My Adventure Copyright © 2012 - |- Powered by SITIGA